<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mapeagiundip's Blog</title>
	<atom:link href="http://mapeagiundip.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mapeagiundip.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Aug 2009 13:20:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mapeagiundip.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mapeagiundip's Blog</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mapeagiundip.wordpress.com/osd.xml" title="Mapeagiundip&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mapeagiundip.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TIPS MEMILIH TENDA GUNUNG</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/08/23/tips-memilih-tenda-gunung/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/08/23/tips-memilih-tenda-gunung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 13:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi....PA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapeagiundip.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[diambil dari milis highcamp Dewasa ini di Indonesia banyak sekali beredar tenda-tenda entah itu dijual secara perseorangan dan dijual di toko-toko outdoor, rata-rata dengan konstrusi dome tent atau pengembangan dari tunnel tent dan single hope tent. Namun dari semua tenda yang dijual dipasaran dewasa ini sebenarnya tidak semuanya cocok dipakai untuk mendaki gunung, ada tenda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=53&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>diambil dari milis highcamp</p>
<p>Dewasa ini di Indonesia banyak sekali beredar tenda-tenda entah itu dijual secara perseorangan dan dijual di toko-toko outdoor, rata-rata dengan konstrusi dome tent atau pengembangan dari tunnel tent dan single hope tent. Namun dari semua tenda yang dijual dipasaran dewasa ini sebenarnya tidak semuanya cocok dipakai untuk mendaki gunung, ada tenda yang hanya cocok dipakai camping di kaki gunung atau bahkan cocok hanya dipakai untuk camping di halaman belakang rumah. Nah bagaimana mengetahui ciri-ciri tenda yang cocok untuk mendaki gunung? berikut mudah-mudahan tips ini bisa membantu teman-teman dalam memilih tenda yang cocok untuk pendakian gunung.</p>
<p>01- Tinggi Tenda</p>
<p>Tenda untuk pendakian gunung cenderung konstruksinya lebih rendah dari pada tenda untuk camping, ini dikarenakan untuk lebih tahan terhadap tiupan angin yang lebih kencang didaerah ketinggian gunung ketimbang lokasi camping yang berada lebih rendah di kaki gunung. Pilihlah tenda yang lebih rendah konstruksinya.</p>
<p>02- Bahan tenda</p>
<p>Perhatikan bahan tenda pilihlah yang dari nylon jangan pilih tenda yang terbuat dari kain katun bahan bagian dalamnya (inner) terbuat dari katun, jika tenda ini dipakai digunung yang tinggi yang bersuhu lembab akan sangat dingin sekali, tenda ini tidak bisa memberikan isolasi yang baik bagi penghuninya. Tenda dengan bahan jenis ini hanya cocok dipakai untuk camping.</p>
<p>03- Lembar Flysheet</p>
<p>Tenda untuk pendakian gunung harus mempunyai lembar flysheet nya, kecuali tenda yang single tent yang terbuat dari bahan breathable garmen yang bisa menahan air tapi kondensasi dalam tenda bisa keluar. seperti tenda keluaran merek Bibler akan tetapi harga tenda dengan bahan jenis seperti ini mahal sekali, dan kebanyakan tenda Bibler ini dipakainya di gunung-gunung tinggi bersalju. Di Indonesia banyak sekali tenda camping yang dijual tenda ini umumnya tidak memiliki flysheet, kalaupun ada pendek sekali bahkan cenderung hanya seperti hiasan, seperti misalnya tenda merek bestway yang banyak dijual di beberapa toko di jakarta. Flysheet sangat berguna untuk melindungi tenda bagian dalam dari hujan, flysheet yang bagus adalah yang menutup tenda hingga kebawahnya. Hindari memakai tenda camping yang tidak mempunyai flysheet karena sewaktu dipakai di gunung dengan cuaca yang lembab saja tenda tersebut cenderung bagian dalamnya akan menjadi lembab dan sangat buruk untuk kesehatan pendaki didalamnya.</p>
<p>04- Jarak flysheet dan bagian dalam tenda</p>
<p>Perhatikan juga jarak antara flysheet dan diding tenda, jarak yang bagus adalah satu jengkal karena dengan begitu bagian dalam tenda tidak menempel dengan flysheet dan jika hujan lebat bagian dalam tenda tidak ikut basah oleh flysheet, yang bisa menyebabkan kebocoran juga, jarak yang bagus antara flysheet dan bagian dalam tenda akan memungkinkan uap kondensasi dari dalam tenda hilng tertiup angin sehingga tidak tertampung di bagian dalam flysheet yang water proof, Jika tertampung dibagian dalam flysheet akan berubah menjadi titik air dan kembali jatuh kebagian dalam tenda. Kadan inilah yang kita sangka tenda bocor sewaktu hujan, padahal tendanya tidak bocor atau bolong sama sekali.</p>
<p>05- Guylines atau tali pengencang</p>
<p>tenda pendakian gunung pasti akan mempunyai tali-tali pengencang dibagian tertentu yang berguna untuk ketahanan tenda dalam menghadapi angin di gunung. tali-tali ini umumnya oleh pabrik tenda ditempatkan pada titik-titik frame konstruksi tenda yang berguna memberikan kekuatan tambahan pda frame agar tidak patah.</p>
<p>06- ruang penyimpanan</p>
<p>Teras atau istilah kerennya vestibule tenda, adalah bonus istimewa untuk tenda pendakian gunung, karena selain bisa dijadikan tempat penyimpanan barang, vestibule bisa dijadikan dapur saat cuaca jelek dan tidak memungkinkan untuk memasak di luar tenda.</p>
<p>Itulah enam titik penting yang perlu kita perhatikan saat memilih tenda untuk kegiatan pendakian gunung. mengenai hal lainnyatergantung selera dan type gunung yang akan kita daki.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=53&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/08/23/tips-memilih-tenda-gunung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mayat &#8211; Mayat Bergelimpangan di Mount Everest</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/22/mayat-mayat-bergelimpangan-di-mount-everest/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/22/mayat-mayat-bergelimpangan-di-mount-everest/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 13:00:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOLCANO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapeagiundip.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Mount Everest adalah titik tertinggi di planet bumi. Karena kondisi yang unik ini banyak orang yang mencoba untuk mendakinya semenjak Sir Edmund Hillary berhasil mendakinya pada tahun 1953. Puncak Mount Everest terletak di negara Nepal dengan tinggi 29,035 feet (8,850 meter) dari permukaan laut. Gunung itu sendiri menjadi pembatas antara Nepal dan Tibet. Suhu rata-rata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=47&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mount Everest adalah titik tertinggi di planet bumi. Karena kondisi yang unik ini banyak orang yang mencoba untuk mendakinya semenjak Sir Edmund Hillary berhasil mendakinya pada tahun 1953.</p>
<p>Puncak Mount Everest terletak di negara Nepal dengan tinggi 29,035 feet (8,850 meter) dari permukaan laut. Gunung itu sendiri menjadi pembatas antara Nepal dan Tibet.</p>
<p>Suhu rata-rata tertinggi terjadi pada bulan mei 2008 yaitu minus 17 derajat Fahrenheit (minus 27 derajat Celsius) and kecepatan angin 51 mil (81 km) per jam.</p>
<p><span id="more-47"></span></p>
<p>Diwaktu lain sepanjang tahun, angin dapat berhembus dalam kecepatan badai 118 mil dan temperatur dapat jatuh sampai minus 100 derajat fahrenheit( minus 73 derajat celcius). Fakta tambahan yang lain adalah kurang dari sepertiga oksigen yang ada di udara dibanding dengan udara yang berada di permukaan laut.</p>
<p>Everest news memperkirakan, pada tahun 2004 lebih dari 2000 orang berhasil mencapai puncak, dan 189 orang mati ketika mencobanya. Jika anda adalah salah satu dari kurang lebih 150 orang yang akan mencoba untuk mendaki Mount Everest pada tahun ini, ada sesuatu yang pasti akan anda lihat sepanjang perjalanan &#8211; MAYAT.</p>
<p>Dari 189 orang yang mati dalam pendakian mereka, diperkirakan 120 orang dibiarkan tinggal di sana. Ini merupakan peringatan yang mengerikan bagi para pendaki. Alasan sederhana mengapa mayat-mayat pendaki dibiarkan berserakan di sana adalah terlalu sulit dan berbahaya untuk mencoba memindahkan mereka. Mencoba membawa tubuh orang mati atau pendaki yang terdampar akan memakan waktu yang terlalu lama dan membuat tim pendaki terhambat. Ini membuat usaha penyelamatan sama dengan bunuh diri.</p>
<p>Kebanyakan mayat terletak di &#8220;Zona kematian&#8221;, area ini terletak di atas base camp terakhir di ketinggian 26,000 feet (8,000 meter). Banyak mayat yang membeku dengan tali masih melingkar di pinggang mereka. Mayat yang lain dalam keadaan membusuk, karena itu beberapa pendaki yang telah berpengalaman telah membuat suatu usaha untuk menguburkan mayat-mayat yang mudah dijangkau.</p>
<p>Pada tahun 2007 Ian Woodall, pendaki Inggris, kembali ke Everest untuk mengubur 3 mayat pendaki yang dia lewati dalam perjalannya menuju puncak. Salah seorang pendaki, seorang wanita bernama Francys Arsentiev, masih hidup ketika woodall menemukannya. Kata pertamanya adalah &#8220;jangan tinggalkan saya.&#8221; Kenyataan yang menyeramkan, tapi, Woodall tidak dapat berbuat apapun untuk menolongnya tanpa membahayakan hidupnya sendiri atau hidup timnya. Dia terpaksa meninggalkan wanita itu untuk mati sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=47&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/22/mayat-mayat-bergelimpangan-di-mount-everest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ROCK CLIMBING</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/20/rock-climbing/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/20/rock-climbing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 12:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi....PA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapeagiundip.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga baru. Benarkah kita belum mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah gembiranya kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira. Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=39&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga baru. Benarkah kita belum mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah gembiranya kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira.</p>
<p style="text-align:left;">Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh dari itu, cuma kali ini kita sudah memilih medan tertentu dengan memikirkan resikonya. Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan petualangan ke tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapi medan yang khusus. Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui, Mountaineering dapat dibagi menjadi : Hill Walking, Rock Climbing dan Ice/Snow Climbing. Hill Walking merupakan perjalanan biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival. Kekuatan kaki menjadi faktor utama suksesnya suatu perjalanan. Untuk Rock Climbing, medan yang dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan tangan untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Ice/Snow Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namun medan yang dihadapi adalah perbukitan atau tebing es/salju .</p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Kadang-kadang akan timbul pertanyaan pada kita, seperti ini : Kenapa sih naik gunung? George L. Mallory (pendaki Inggris) menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, Because it’s there.. Lalu pertanyaan lain, Apa yang kau dapatkan di sana ? Seorang pendaki akbar, Reinhold Messner berkata : The mountains tell you, quite ruthlessly, who you are, and what you are. Mountaineering is a game where you can’t cheat &#8230;, more than that, what’s important is your determination cool nerves, and knowing how to make the right choice. Olahraga seperti ini adalah nikmat, dan barangkali sedikit egois. Segala kenikmatan pada saat kita menyelesaikan sebuah medan sulit adalah milik kita sendiri, tidak ada sorak sorai, apalagi kalungan medali. Sebaliknya, adanya kecelakaan dalam suatu pendakian adalah karena kelalaian kita sendiri, kurang hati-hati dan kurang memperhitungkan kemampuan diri. Banyak pendaki yang melakukan turun tebing (rappeling / abseiling) dengan melompat dan sangat cepat, ini sangat berbahaya. Untuk kita, sebaiknya menganggap kegiatan panjat tebing sebagai hobi, seperti hobi-hobi lainnya. Sebagai gambaran bisa kita simak perkataan Walter Bonatti, seorang pendaki kawakan dari Italia, saat melakukan pendakian solo pada dinding yang mengerikan di Swiss. Ketika ia sedang menghadapi kesulitan melewati overhang (dinding menggantung dengan kemiringan &gt; 90 derajat), sebuah pesawat mengitarinya yang rupanya mencarinya. Kehadiran pesawat menekan kesendiriannya : “ Siapa yang mengatakan bahwa mereka melihatku ?, aku berfikir dan merasa bahwa pesawat tersebut adalah bagian dariku, yang kini meninggalkan dan merobek hatiku. Aku mulai sadar bahwa aku lebih suka jika terdapat kesunyian yang mutlak. Semua yang terjadi dalam waktu singkat tadi seakan-akan merupakan usaha akhir untuk menghubungkan diriku dengan kehidupan yang tidak mempunyai arti lagi bagiku. Pesawat itu berputar-putar kemudian meninggalkan diriku seperti mati.” Akhirnya, marilah kita mencoba lebih mengenal panjat tebing yang nikmat itu. Pada tulisan ini, pembicaraan hanya terbatas pada pembahasan panjat tebing, dengan tidak mengecilkan yang lain, Hill Walking dan Ice/Snow Climbing.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>II. KLASIFIKASI PANJAT TEBING</strong><br />
Dalam panjat tebing terdapat 2 klasifikasi pembedaan, yaitu :<br />
1. Pembedaan yang pertama adalah antara Free Climbing dengan Artificial<br />
Climbing.Free Climbing adalah suatu tipe pemanjatan di mana si pemanjat<br />
menambah ketinggian dengan menggunakan kemampuan dirinya sendiri, tidak dengan bantuan alat. Dalam Free Climbing, alat digunakan hanya sebatas pengaman, bukan sebagai alat untuk menambah ketinggian. Bedanya dengan Artificial Climbing, di mana alat selain digunakan sebagai pengaman, juga berfungsi untuk menambah ketinggian.<br />
2. Pembedaan yang kedua adalah antara Sport Climbing dengan Adventure<br />
Climbing.Sport Climbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan pada faktor olahraganya. Dalam Sport Climbing, pemanjatan dipandang seperti halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Sedangkan pada Adventure Climbing, yang ditekankan adalah lebih pada nilai petualangannya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>III. KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING</strong><br />
Kelas Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master. Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan kita. Kelas yang dibuat oleh Sierra Club adalah :</p>
<p style="text-align:left;"><em>Kelas 1: Cross Country Hiking</em><br />
Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan untuk mendaki / menambah ketinggian.<br />
<em>Kelas 2:Scrambling</em><br />
Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.<br />
<em>Kelas 3:Easy Climbing</em><br />
Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik mendaki (climbing) sangat<br />
membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat menggunakan tali.<br />
<em>Kelas 4:Rope Climbing with belaying</em><br />
Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat) alamiah atau<br />
buatan,berfungsi sebagai pengaman.<br />
<em>Kelas 5</em><br />
Kelas ini dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai 5.14), di mana semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.<br />
<em>Kelas A</em><br />
Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan tebing menjadi 5.4 &#8211; A2.</p>
<p style="text-align:left;"><em>Grade</em><br />
Merupakan ukuran banyaknya teknik pendakian yang diperlukan. Faktor rute yang sulit dan cuaca buruk dapat menambah bobot grade menjadi lebih tinggi. Sebagai contoh, tebing kelas 5.7 yang rendah dan dekat dengan jalan raya, mungkin akan mempunyai grade I (satu).</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong>IV. ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING</strong><br />
<em>A.ETIKA</em><br />
Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal. Dan antara suatu masyarakat dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda terhadap suatu hal yang sama. Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik rap bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan pemanjatan ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai peraturan konservasi alam yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak dapat dibenarkan oleh para pemanjat tradisional di kawasan ini, di antaranya adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua jalur yang ada di Yosemite harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat (leading). Kasus ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua pemanjat<br />
yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana etika sering menimbulkan perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai masalah yang kerap timbul di sekitar pembuatan jalur. Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :</p>
<p style="text-align:left;"><em>Masalah teknik pembuatan jalur</em></p>
<p style="text-align:left;">Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini banyak dianut, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang akan dilewati sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh pemanjat tradisional Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara yang banyak digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix rope yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat<br />
membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman lebih presisi karena gerakan pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:left;"><em>Masalah penamaan jalur</em></p>
<p style="text-align:left;"><em></em>Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur atau pemanjat pertama yang menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya. Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi orang pertama yang menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan untuk membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang dibuat terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di Indonesia biasanya nama jalur merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.</p>
<p style="text-align:left;"><em>Masalah keaslian jalur</em><br />
Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi sebuah jalur. Yang menjadi masalah, apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh tak dapat ditambah dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang berhasil memanjat suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter, dengan hanya 2 bolt saja, hal ini berlaku bagi semua pemanjat yang akan menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi. Tradisi ini memang mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup menuntaskan jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2 bolt saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan<br />
jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang ada? Sampai sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama? (sampai yang paling ekstrim)</p>
<p style="text-align:left;"><em>Pengubahan bentuk permukaan tebing </em></p>
<p style="text-align:left;"><em></em>Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal itu<br />
haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur<br />
tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh<br />
kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini,<br />
namun hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar<br />
kesinambungan jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.</p>
<p style="text-align:left;"><em>B. GAYA</em><br />
Pengertian gaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan peralatan serta derajat petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti tingkat ketidakpastian hasil yang akan dicapai.</p>
<p style="text-align:left;">Gaya harus sesuai dengan pendakian. Gaya yang berlebihan untuk tebing yang kecil, sebaik apapun gaya tersebut akhirnya menjadi gaya yang buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan teknis terbatas adalah gaya yang baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya. Kita dapat menggunakan pointpoint alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada batu yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada pendakian sendiri, tanpa menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikan gaya dengan pendakian dan kemampuan diri. Gaya yang baik adalah persesuaian yang sempurna &#8211; penapakan dari dua sisi yang baik antara ambisi dan kemampuan.</p>
<p style="text-align:left;">Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat diterapkan dan juga memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing rute. Itulah prinsip pendakian pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat membimbing kita dalam masalah gaya dan etika. Kita telah memiliki standar minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran. Penerimaan terhadap prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat tentang gaya umum. Keuntungan lain adalah gaya dari pendakian pertama adalah gaya yang layak, dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya bahwa rute tersebut, paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang yang menyelesaikannya, dan memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta menganggap pendakian mereka sebagai suatu hasil karya, maka pendakian meraka bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.</p>
<p style="text-align:left;">Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya yang ada, di antaranya adalah :<br />
Onsight Free Solo<br />
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tanpa tali. Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.<br />
Free Solo<br />
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum hapal benar jalur tersebut.<br />
Worked Solo<br />
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba berkali-kali sampai benar-benar hapal mati seluruh bentuk permukaan tebing.<br />
Onsight Flash / Vue<br />
Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat lain dijalur yang sama, juga tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat dengan menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasang pengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat disepanjang jalur.<br />
Beta Flash<br />
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.<br />
Déjà vu<br />
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan memanjat yang lebih baik , ia kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.<br />
Red Point<br />
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.<br />
Pink Point<br />
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada tempatnya.<br />
Brown Point<br />
Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh (hangdogging). Pemanjatan dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik, strategi, atau trik untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu jalur. Setelah begitu banyak melihat gaya pemanjat dalam menuntaskan jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang lebih sulit. Dengan begitu dapat pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.</p>
<p style="text-align:left;"><em>C. PERTIMBANGAN LAIN</em><br />
1. Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian tebing adalah sesuatu kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang harus diperhatikan adalah masalah penggunaan runners alam dan chockstone buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap utuh.<br />
Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih menimbulkan cacat pada tebing. Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :<br />
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.<br />
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.<br />
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.<br />
Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama menggunakan piton, kita harus berusaha memperkecil penggunaan piton karena sifatnya yang merusak<br />
2. Sampah<br />
Jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng tesebut dan bawalah keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya disimpan kembali karena tidak dimakan oleh binatang dan sangat lambat pembusukannya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>V. TEKNIK PANJAT TEBING</strong><br />
<em>A. STRUKTUR GUNUNG</em><br />
Dengan mengetahui struktur suatu gunung, akan lebih mudah bagi kita untuk<br />
merencanakan sebuah rute yang akan didaki. Merencanakan tempat untuk<br />
berhenti istirahat, dan sebagainya. Faktor lain yang memiliki kaitan erat adalah musim dan cuaca terutama arah angin. Akan lebih sulit apabila kita mendaki dinding selatan pada saat angin bertiup kencang dari arah selatan daripada kalau angin bertiup dari utara.<br />
Sebelum seseorang memanjat tebing, seperti juga pada Hill Walking, maka<br />
diperlukan pengetahuan rute yang akan diambil. Di negara-negara maju<br />
disediakan buku petunjuk rute suatu tebing dengan tingkat kesulitannya. Pendaki dapat memilih rute yang akan didaki dengan memperhitungkan kemampuannya.</p>
<p style="text-align:left;"><em>B. PERALATAN PANJAT TEBING</em><br />
1. Tali<br />
Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari kemungkinan jatuh<br />
sampai menyentuh tanah (freefall). Berbagai jenis tali yang digunakan dalam<br />
Panjat Tebing adalah :<br />
a. Tali serat alam<br />
Jenis tali ini sudah jarang digunakan. Kekuatan tali ini sangat rendah dan mudah terburai. Tidak memiliki kelenturan, sehingga membahayakan pendaki.<br />
b. Hawser Laid<br />
Tali sintetis, plastik, yang dijalin seperti tali serat alam. Masih sering digunakan terutama untuk berlatih turun tebing. Tali ini relatif lebih kuat dibanding tali serat alam dan tidak berserabut. Kelemahannya adalah kurang tahan terhadap zat kimia, sulit dibuat simpul dan mempunyai kelenturan rendah serta berat.<br />
c. Core dan Sheat Rope (Kernmantel Rope)<br />
Tali yang paling banyak digunakan saat ini, terdiri dari lapisan luar dan dalam. Yang terkenal adalah buatan Edelrid, Beal dan Mammut. Ukuran tali yang umum dipakai bergaris tengah 11 mm, panjang 45 m. Untuk pendakian yang mudah, snow climbing, atau untuk menaikkan barang dipakai yang berdiameter 9 mm atau 7 mm. Tali ini memiliki sifat-sifat :<br />
- Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut (cliff). Bila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis ini.<br />
- Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.<br />
- Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di tempat teduh.<br />
- Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki jatuh, misalnya)<br />
Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila dibuat simpul. Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi kekuatan tali sampai 10%.<br />
Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan perlakuan yang baik dan benar. Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan mudah dibuka bila akan digunakan. Ada beberapa cara menggulung tali, antara lain :<br />
- Mountaineers coil<br />
- Skein coil<br />
- Royal robin style</p>
<p><em>2. Webbing (tali pita) dan Sling</em><br />
Seringkali kita menyebut webbing sebagai sling atau sebaliknya. Webbing<br />
memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam. Pertama lebar 25 mm dan<br />
berbentuk tubular, sering digunakan untuk :<br />
- Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness, atau<br />
- Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier) atau untuk membawa peralatan.<br />
Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang biasa<br />
digunakan untuk macam-macam body slings. Webbing yang sering disebut juga sebagai flat rope adalah produk sampingan perang dunia II.</p>
<p><em>3. Carabiners (snapring, snapling, cincin kait)</em><br />
Secara prinsip, carabiner digunakan untuk menghubungkan tali dengan runners (titik pengaman), sehingga carabiner dibuat kuat untuk menahan bobot pendaki yang terjatuh.<br />
Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan panjat tebing mengharuskan carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force (kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan beban maksimum yang diperbolehkan adalah sekitar 5000 pounds.<br />
Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini sangat ringan dan cukup kuat, terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat dari baja<br />
mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.<br />
Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin, carabiner bentuk D<br />
relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat beban. Kelebihan dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.<br />
Ada carabiner yang dilengkapi tutup pada pintunya (screw gate). Hal ini<br />
dimaksudkan agar carabiner tidak tebuka gatenya karena sesuatu hal. Tentunya carabiner ini lebih berat dibandingkan yang tanpa tutup (non screw gate).</p>
<p style="text-align:left;"><em>4. Piton (peg, paku tebing)</em><br />
Terbuat dari bahan metal dalam berbagai bentuk. Berfungsi sebagai pengaman, piton ini ditancapkan pada rekahan tebing. Sebagai kelengkapan untuk memasang atau melepas piton digunakan hammer.<br />
Pada umumnya piton dapat digolongkan dalam 4 jenis, yaitu Bongs, Bugaboos, Knife-blades dan Angle. Piton jenis angle, knife-blades, dan bongs biasanya digunakan untuk rekahan horizontal maupun vertikal. Sedangkan yang bugaboos biasanya dibuat khusus untuk horizontal atau vertikal saja.<br />
Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa rekahan yang akan dipasang piton, kita memilih piton yang cocok dengan rekahan, lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer. Salah besar kalau kita memilih piton dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada tebing sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh. Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara pemasangan yang berbeda dan atau perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.<br />
Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita pukulkan<br />
pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat ditarik.</p>
<p><em>5. Chock</em><br />
Disamping piton, chock juga berfungsi sebagai alat pengaman (runners). Dibuat dalam beberapa jenis dan ukuran, dapat dibagi menjadi : sling chock, wired chock, dan rope chock. Diantaranya berbentuk hexentric dan foxhead.<br />
Chock dibuat dari alumunium alloy sehingga sangat ringan. Cara memasang<br />
chock adalah dengan menyangkutkan pada rekahan. Sangat disukai pemanjat yang berpengalaman, karena mudah menempatkannya pada rekahan dan tidak memerlukan tenaga serta waktu banyak seperti halnya memasang piton.</p>
<p style="text-align:left;"><em>6. Ascendeur</em><br />
Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan perkembangan dari prusik, mudah mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban. Dalam<br />
menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum disangkutkan pada carabiner. Ascendeur terbagi menjadi 2 jenis yaitu :<br />
a. Jumar<br />
Merupakan alat bantu naik pertama, terbuat dari kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 &#8211; 11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Jumar sendiri dapat dibagi menjadi 3 macam :<br />
- Standard jumar<br />
- Jumar<br />
- Jumar CMI 5000 (ColoradoMountains Industries). Jenis ini mempunyai<br />
kekuatan sekitar 5000 pounds dan carabiner dapat langsung disangkutkan pada kerangkanya.<br />
b. Clog<br />
Alat naik mekanis yang lain, mempunyai prinsip kerja yang sama seperti jumar. Alat ini banyak digunakan di Inggris.</p>
<p style="text-align:left;"><em>7. Descendeur</em><br />
Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling). Pada prinsipnya untuk<br />
menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga tidak terasa panas.<br />
Beberapa jenis descendeur :<br />
a. Figure of eight<br />
b. Brake bar<br />
c. Bobbin (petzl descendeur)<br />
- single rope<br />
- double rope<br />
d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga<br />
berfungsi semacam brake bar.</p>
<p style="text-align:left;"><em>8. Etrier (tangga)</em><br />
Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat membantu untuk menambah ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital, sehingga tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.</p>
<p><em>9. Harness</em><br />
Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki terjatuh, Juga akan mengurangi rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on a coil.<br />
Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.<br />
Jenis &#8211; jenis harness :<br />
a. Full body harness<br />
Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi dengan sangkutan alat disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.<br />
b. Seat harness<br />
Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu<br />
pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan diapersling atau dengan menggunakan figure of eight sling.</p>
<p style="text-align:left;"><em>10. Helm</em><br />
Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga perlu mengenakan helm untuk melindungi dari benturan tebing saat pendaki terjatuh atau bila ada batu yang berjatuhan. Meskipun helm agak mengganggu, tetapi kita akan terhindar dari kemungkinan terluka atau keadaan fatal.</p>
<p style="text-align:left;"><em>11. Sepatu</em><br />
Sepatu sangat berpengaruh pada suatu pendakian, ini pun tergantung pada medan yang akan dilalui. Untuk medan batu kapur yang licin dipakai sepatu yang bersol tipis dan rata. Sedangkan untuk medan sand stone (batu pasir) atau medan basah dipakai yang bersol tebal dan bergerigi. Sepatu panjat biasa dibuat tinggi, untuk melindungi mata kaki.</p>
<p style="text-align:left;"><em>C. PENGETAHUAN TALI-TEMALI</em><br />
Tati-temali merupakan pengetahuan dasar penting untuk seorang pendaki.<br />
Beberapa simpul yang perlu diketahui adalah:<br />
1. Figure of eight knot (simpul delapan)<br />
Paling sering dipakai, mudah dibuat serta melepaskanya setelah mendapat beban. Simpul ini dipakai untuk menyambung tali.<br />
2. Water knot (simpul pita)<br />
Sering digunakan untuk menyambung webbing/sling/tali pita, meskipun dalam keadaan basah.<br />
3. Bowline<br />
Biasanya dipakai untuk anchor (titik tambat), karena sifatnya yang bila mendapat beban akan semakin mengikat. Bowline terdiri dari :<br />
a. Basic bowline<br />
b. Bowline on the bight<br />
4. Fisherman’s knot (simpul nelayan)<br />
Simpul ini sangat baik untuk menyambung tali, baik tali dalam keadaan basah<br />
ataupun bila dua tali yang disambung berbeda ukuran. Yang biasa digunakan :<br />
a. Single fisherman’s knot<br />
b. Double fisherman’s knot<br />
5. Sheet bend<br />
6. Prusik<br />
7. Overhand Loop</p>
<p><em>D. PRAKTIK PANJAT TEBING</em><br />
1. Bergerak<br />
Bergerak pada tebing lebih menuntut perhatian kita dalam menggunakan kaki. Pijakan kaki yang mantap akan lebih memudahkan kita dalam bergerak dan untuk memperoleh keseimbangan tubuh. Seorang yang baru belajar panjat tebing biasanya akan memusatkan perhatian pada pegangan tangan. Hal ini justru akan mempercepat lelah dan kehilangan keseimbangan.<br />
Tangan sebenarnya hanya membantu kaki dalam mencapai keseimbangan<br />
tersebut, kecuali untuk kasus-kasus tertentu, seperti melewati overhang, layback, dsb. Untuk itu, bagi pemula sebaiknya memusatkan perhatian untuk mencari pijakan (foot hold). Dan membisikkan pada dirinya sendiri “lihat ke bawah&#8230;.!”.<br />
Unsur terpenting dalam panjat tebing adalah keseimbangan; bilamana<br />
menempatkan tubuh, sehingga beban tubuh dapat terpusat pada titik-titik pijakan.<br />
Prinsip tiga point sangat baik untuk diterapkan. Yaitu hanya menggerakan satu anggota badan saja (kaki kiri/kanan dan tangan kiri/kanan), sementara tiga anggota badan lain tetap pada pijakan/pegangan.<br />
Kesalahan lain yang biasa dibuat oleh seorang pemanjat pemula adalah<br />
menempelkan tubuhnya rapat ke tebing. Hal ini justru merusak keseimbangannya.<br />
Tubuh yang menempel pada tebing akan menyusahkan seorang pendaki dalam bergerak. Dalam melakukan gerakan, tidak perlu mencari pegangan yang terlalu tinggi karena akan cepat menguras tenaga. Seperti halnya bila kita berjalan dengan langkah lebar tentu akan cepat lelah. Bergeraklah seperti ‘puteri solo’, melakukan langkah kecil, tenang tapi pasti.<br />
Hal lain yang mendukung dalam setiap jenis olahraga adalah semangat. Dengan berlatih serius tentu kita akan dapat bergerak dengan anggun. Ada perkataan seperti ini, “The best training for rock-climbing is rock-climbing”, ya berlatih panjat tebing sebaiknya ditebing, melakukan panjat tebing itu sendiri. Sekali lagi, cobalah untuk mengingatkan diri sendiri dengan membisikkan katakata, “lihat ke bawah&#8230;.”.<br />
2. Menggunakan Kaki<br />
Dalam setiap gerakan, pengerahan energi harus diperhitungkan, sehingga pada saat dibutuhkan, energi tersebut dapat dikerahkan secara penuh. Konservasi energi dengan koordinasi antara otak dengan tubuh adalah keseimbangan antara apa yang terpikir dan apa yang mampu dilakukan tubuh kita. Posisi telapak kita jelas akan menentukan ketepatan titik beban pada kaki. Menempelkan lutut pada tebing justru akan merusak keseimbangan. Usahakan untuk merencanakan penempatan kaki dahulu sebelum mencari pegangan tangan.<br />
3. Menggunakan Tangan<br />
Setelah menempatkan posisi kaki dengan benar, tangan akan membantu dalam mencapai keseimbangan tubuh seseorang pendaki dengan memanfaatkan rekahan atau tonjolan batu. Rekahan tersebut bisa berupa rekahan kecil dan besar yang cukup untuk seluruh badan. Tonjolan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam, tonjolan tajam (incut), tonjolan datar (flat), dan tonjolan bulat (rounded/sloping).<br />
Berdasarkan retakan dan tonjolan tebing, maka pegangan dapat dibagi menjadi beberapa macam:<br />
a. Pegangan biasa<br />
Untuk tonjolan yang cukup besar (incut dan flat), seluruh tangan dapat digunakan, tapi ada kalanya sangat kecil sehingga hanya jari yang dapat digunakan.<br />
b. Pegangan Tekan (pressure push hold)<br />
Pegangan ini diperoleh dengan cara mendorong tangan pada bidang batu yang cukup luas.<br />
c. Pegangan Jepit<br />
Jenis ini dipakai untuk tonjolan bulat (rounded atau slopping). Kalau tonjolan ini cukup besar bisa seluruh tangan digunakan, tetapi bila kecil hanya jari saja yang digunakan.<br />
d. Jamming<br />
Pegangan ini dilakukan secara khusus, yaitu dengan cara menyelipkan tangan<br />
sehingga menempel dengan erat. Sesuai besar kecilnya celah batu jamming dibagi atas beberapa macam:<br />
- jamming dengan jari atau tangan (finger and hand jamming)<br />
- jamming dengan kepalan atau lengan (fist and arm jamming)<br />
4. Gerakan Khusus Dalam Panjat Tebing<br />
Dalam bergerak, sering dijumpai kondisi medan yang sulit dilewati dengan hanya mengandalkan teknik pegangan biasa. Untuk itu, ada beberapa gerakan khusus yang penting diketahui.<br />
a. Layback<br />
Diantara dua tebing yang berhadapan dan membentuk sudut tegak lurus, sering dijumpai suatu retakan yang memanjang dari bawah ke atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti itu dengan mendorong kaki pada tebing di hadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada retakan tersebut ke atas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat memerlukan pengerahan tenaga yang besar, karenanya gerakan harus dilakukan secara tepat sebelum tenaga kedua tangan habis.<br />
b. Chimney<br />
Bila kita menemukan dua tebing berhadapan yang membentuk suatu celah yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang dilakukan adalah dengan chimney yaitu dengan menyandarkan tubuh pada tebing yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada dinding yang lain. Tindakan selanjutnya adalah dengan menggeser-geserkan tangan, kaki dan tubuh sehingga gerakan ke atas dapat dilakukan. Berdasarkan lebar celah batu yang kita hadapi, maka chimney dapat dibagi atas:<br />
- Wriggling<br />
Wriggling dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga cukup untuk<br />
tubuh saja.<br />
- Backing Up<br />
Backing Up dilakukan pada celah yang cukup luas, sehingga badan dapat<br />
menyusup dan bergerak lebih bebas.<br />
- Bridging<br />
Bridging dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.<br />
c. Mantelshelf<br />
Dilakukan bila menghadapi suatu tonjolan datar atau flat yang luas sehingga dapat menjadi tempat untuk berdiri. Caranya yaitu dengan menarik tubuh dengan kekuatan tangan dan tolakan kaki sehingga dapat melalui tonjolan tadi. Salah satu kaki kemudian menginjak dataran batu tersebut sejajar dengan tangan, disusul dengan kaki yang lainnya.<br />
d. Cheval<br />
Cara ini dilakukan pada batu yang biasa disebut arete yaitu bagian punggung<br />
tebing batu dengan bidang yang sangat tipis dan kecil.Pendaki yang menggunakan cara ini mula-mula duduk seperti menungang kuda pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia mengangkat atau memindahkan tubuhnya ke atas.<br />
e. Traversing<br />
Adalah gerakan menyamping atau horisontal dari suatu tempat ke tempat lain. Gerakan ini dilakukan untuk mencari bidang batu yang baik untuk dipanjat, untuk mencari rute yang memungkinkan menuju ke atas. Karena gerakan ini horisontal, biasanya lebih banyak digunakan tangan dari pada kaki (hand traveserse).<br />
f. Slab Climbing / Friction Climbing<br />
Dilakukan pada tebing yang licin dan tanpa celah atau rekahan serta kondisi tidak terlalu curam.<br />
5. Leading and Runners<br />
a. Leading (memimpin pendakian)<br />
Umumnya dalam setiap pendakian, harus ada seorang yang menjadi pendaki<br />
pertama (leader), biasanya dipilih seorang yang berpengalaman. Untuk menjadi leader dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang panjat tebing. Ketenangan dalam menyelesaikan rute-rute sulit, menempatkan piton-piton dan chock dengan tepat, keyakinan untuk bergerak ke atas dengan mulus serta dengan keyakinan pula menempatkan diri pada posisi istirahat. Bila rute tersebut masih asri / belum terjamah sebelumnya, maka menciptakan rute baru menurut seorang pendaki terkenal merupakan karya seni yang luar biasa. Untuk mengamankan dirinya dari kemungkinan jatuh, seorang leader akan menempatkan suatu rangkaian jalur pengaman pada tempat-tempat yang tepat. Jalur pengaman (runners) yang dibuat selurus mungkin, ini dimaksudkan untuk mengurangi gesekan antara karabiner<br />
engan tali pengaman. Hal ini untuk mencegah copotnya runners.<br />
b. Runners<br />
Runners adalah tempat tumpuan tali pengaman yang dipasang oleh pendaki<br />
pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang mungkin timbul. Semakin banyak runners yang dipakai, makin terjaga pula pengamanan untuk si pendaki. Akan tetapi banyak juga para pendaki yang beranggapan bahwa pemakainan runners harus sesedikit mungkin, untuk menjaga kelestarian tebing bersangkutan. Runners umumnya dipakai untuk proteksi pendaki pertama, akan tetapi untuk kasus-kasus tertentu bisa juga dipakai untuk proteksi pendaki kedua. Sesuai perkembangan peralatan panjat tebing, runners dapat dibentuk dari banyak alat. Akan tetapi pada prinsipnya runners dapat dibentuk dengan piton, sling, dan chock.<br />
6. Belaying dan Anchor<br />
a. Belaying<br />
Merupakan hal yang penting dalam suatu rangkaian panjat tebing (claimbing<br />
chain). Belayer yang baik harus terlatih sehingga dapat menyelamatkan leader, bila leader terjatuh. Untuk itu dibutuhkan latihan, disamping memahami cara-cara yang tepat. Komunikasi antara belayer dengan leader harus jelas dan dimengerti oleh kedua belah pihak. Karena adakalanya leader minta belayer untuk mengendorkan tali (slack) ataupun mengencangkan tali (tension).<br />
b. Anchor<br />
Anchor (jangkar) adalah suatu titik keamanan awal dimana yang kita buat<br />
disangkutkan di sana. Anchor berguna untuk mengikatkan tali yang telah<br />
bersimpul tersebut dan dipakai untuk rappeling (turun), naik (memakai alat) atau untuk mengikatkan seseorang bila ia menjadi seorang belayer. Ada anchor alamiah yang relatif kuat dan ada pula anchor buatan dengan bantuan piton, bolt, chock, sling, dan etrier. Anchor buatan umumnya dipakai bila sama sekali tidak ada anchor alamiah misalnya pada suatu pitch di tengah-tengah tebing.<br />
c. Belaying dan penggunaan Runners<br />
Ada beberapa pendaki yang senang melakukan panjat tebing seorang diri, tetapi kebanyakan kegiatan ini dilakukan oleh satu kelompok yang terdiri dari beberapa pendaki. Dalam ‘free climbing’ beberapa alat pendakian juga digunakan, meskipun pemakaian terbatas untuk proteksi saja. Tali misalnya, bukan untuk memanjat atau pegangan, tapi untuk tali pengaman (safety rope) yang menghubungkan pendaki dengan pendaki lain yang menjadi belayer. Demikian halnya alat-alat lain seperti karabiner, piton, chock atau sling yang semuanya digunakan untuk proteksi. Pendakian oleh satu kelompok dipandang sebagai suatu hal yang menjamin keamanan para pendaki. Pendaki pertama diikat dengan tali pengaman yang dihubungkan dengan pendaki kedua yang melakukan belaying. Untuk menghindarkan akibat jatuh yang fatal, maka jarak jatuh si pendaki dengan belayer harus dipersempit. Caranya yaitu dengan menempatkan runners (running belay) pada jarak-jarak di tebing batu. Dengan menempatkan runners sebanyak mungkin, diharapkan faktor kejatuhan (fall factor) dapat diperkecil.<br />
Bila pendaki pertama berhasil mencapai tempat berpijak yang aman, maka<br />
sekarang ia membantu mengamankan pendaki kedua dengan memberikan<br />
belaying (upper belay). Jarak antara tempat pendaki pertama berpijak dengan pendaki kedua yang menjadi belayer (low belaying) secara teknis disebut “pitch”. Jadi banyak pitch pada satu tebing tergantung frekuensi belaying yang dilakukan.<br />
7. Abseiling (Rapeling)<br />
Setelah mencapai puncak tebing, persoalan berikutnya adalah bagaimana turun kembali. Pada saat turun, pandangan pendaki tidak seluas atau sebebas ketika mendaki. Inilah sebabnya mengapa turun lebih sulit dari pada mendaki.<br />
Karenanya alat sangat diperlukan pada saat turun tebing (abseiling/rapeling). Cara turun dengan menggunakan tali melalui gerakan atau sistem friksi sehingga laju luncur pendaki dapat terkontrol.<br />
Berdasarkan pemakaian alat maka abseiling dapat dibagi atas : teknik tanpa<br />
karabiner (classic method) dan teknik dengan karabiner (crab method).<br />
a. Teknik Dulfer<br />
Cara klasik dalam turun tebing. Hanya menggunakan tali luncur (abseiling rope) yang diletakkan diantara dua kaki lalu menyilang dada dan melalui bahu. Laju turun ditahan dengan satu tangan.<br />
b. Teknik Modified Dulfer<br />
Teknik semi klasik. Menggunakan karabiner tersebut tali luncur menyilang ke<br />
salah satu bahu lalu dipegang oleh satu tangan untuk kontrol.<br />
c. Teknik Komando<br />
Di Indonesia, cara ini sering dipakai oleh para komando. Caranya dengan<br />
melilitkan karabiner dengan tali sebanyak dua kali, dan dengan melewati antara kaki maka laju badan dikontrol dengan gerakan tali luncur tersebut pada salah satu tangan. Adakalanya tali luncur tersebut tidak melalui dua kaki tetapi hanya satu paha, lalu gerakan friksinya diatur oleh tangan yang sejajar dengan paha tersebut.<br />
d. Teknik Brake Bar<br />
Empat buah karabiner disusun melintang sedemikian rupa sehingga merupakan sistem friksi (lihat kembali: descendeur), lalu tali luncur melewatinya dengan dikontrol oleh satu tangan pendaki. Sistem friksi kemudian dikembangkan dengan sistem descendeur khusus yang disebut bar crab.<br />
Abseiling dengan penggunaan karabiner atau tanpa karabiner dilakukan pada<br />
tebing batu yang tidak terlalu tinggi. Bila kita berhadapan dengan satu tebing yang panjang atau tinggi, maka cara ini tidak dianjurkan.Untuk kasus seperti itu dapat menggunakan descendeur, seperti figure of eight, bobbin atau brake bar.<br />
Karena abseiling sangat tergantung pada alat yang dipakai maka persiapan<br />
penggunaanya harus betul-betul diperhatikan. Pastikan bahwa ikatan pada anchor benar-benar kuat. Periksa kembali apakah ujung tali telah disimpul. Sebaiknya selain abseile rope persiapkan juga safety rope yang diamankan oleh pendaki kedua.<br />
Dengan memasang karabiner untuk meluncur, mutlak diperhatikan arah pintu (gate) karabiner tersebut. Ingat prinsip friksinya jangan sampai terbalik tetap gate karabiner. Kalau perlu screw gate karabiner.Tangan yang mengontrol laju tidak boleh dilepas, karena luncuran yang tidak terkontrol dapat berakibat fatal.<br />
Jangan memaksa untuk melakukan lompatan pada abseiling, kecuali pada tebing yang menggantung (overhang). Turunlah perlahan-lahan, lompatan akan memberi tekanan pada tali sehingga kemungkinan tali lepas atau aus lebih besar. Lagi pula, lompatan sering membuat pendaki lepas kontrol dan mendarat kurang tepat.<br />
8. Urutan Suatu Pendakian<br />
a. Memilih rute<br />
Pada umumnya dipilih berdasarkan data-data yang sudah ada, misalnya dari bukubuku panduan atau dari para pendaki yang pernah melewatinya.<br />
b. Mempersiapkan peralatan<br />
Persiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan rute yang dipilih.<br />
c. Menentukan leader<br />
Leader dipilih oleh mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Apabila dalam regu tersebut kemampuannya sama, leader dapat bergantian.<br />
d. Mempersiapkan pendakian<br />
- Buat anchor pada posisi yang tepat.<br />
- Leader mempersiapkan diri, yaitu seluruh peralatan pendakian yang ditempatkan pada gantungan yang tersedia atau pada sekeliling harness.<br />
- Belayer mempersiapkan diri, yaitu dengan mengikatkan diri pada anchor.<br />
- Aba-aba. Apabila leader telah siap, dia akan berkata “ belay on” dan disahuti oleh belayer dengan “on belay”.<br />
e. Memulai pendakian<br />
- Leader naik menuju pitch (belayer harus seksama memperhatikan seluruh<br />
gerakan yang dilakukan oleh leader, cara memasang chock, melewati<br />
overhang/tebing atap/tebing yang menggantung istirahat, memasang sling, dsb.<br />
- Leader menyangkutkan tali pengaman pada runner yang dibuatnya.<br />
- Berikutnya kadang-kadang leader melakukan gerakan khusus atau menggunakan tangga untuk dapat terus naik.<br />
- Bila leader jatuh akan tertolong oleh belayer bila runner telah terpasang kuat.<br />
- Setelah cukup tinggi sekitar 40 meter lebih, leader akan mencari tempat yang cukup aman untuk memasang anchor.<br />
- Adakala sebelum setinggi itu terdapat teras lebih baik anchor dipasang di sini. Bila leader merasa cukup aman terikat pada anchor yang dibuat dia akan berkata “belay off”<br />
- Leader telah menyelesaikan pitch I<br />
f. Belayer mempersiapkan diri untuk menyusul leader ke pitch I<br />
- Langkah pertama ia akan membuat anchor<br />
- Ujung tali yang dipakai untuk mem-belay disangkutkan pada tubuhnya<br />
- Belayer melakukan cleaning up (membersihkan runner yang dibuat oleh leader). Biasanya ia dilengkapi oleh hammer yang berguna untuk mencopot piton.<br />
- Belayer sebagai pendaki kedua sampai di pitch I<br />
g. Meneruskan ke pitch I<br />
- Bila ada pendaki ketiga, leader akan memasang fixed rope (tali tetap) untuk<br />
pendaki ketiga yang naik menggunakan ascendeur.<br />
- Bila hanya berdua, akan dimulai proses pendakian seperti sebelumnya.<br />
9. Artificial Climbing<br />
Pada suatu keadaan tertentu dimana tebing tidak ada hold (tonjolan batu) tetapi hanya ada rekahan kecil yang tidak dapat digunakan untuk pijakan dan pegangan, maka pendakian akan menggunakan alat berupa piton, friend, chock serta etrier dalam menambah ketinggian.<br />
Dalam hal ini etrier menjadi alat yang sangat vital sebagai pijakan. Dengan cara menempatkan etrier pada chock/friend/piton yang terpasang pada rekahan.<br />
Pendaki memasang lebih ke atas lagi chock/friend/piton, kemudian etrier<br />
dipindahkan pada chock/friend/piton yang terpasang tersebut. Demikian<br />
seterusnya berulang-ulang sehingga pendaki mencapai ketinggian yang<br />
diinginkan.<br />
Demikianlah ringkasan suatu pendakian pada umumnya. Akhirnya makalah ini kami cukupkan sampai di sini. Untuk lebih jelas sebaiknya kita berlatih di<br />
lapangan/tebing.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=39&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/03/20/rock-climbing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EXTRATERRESTRIAL VOLCANO</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/20/extraterrestrial-volcano/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/20/extraterrestrial-volcano/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 00:13:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOLCANO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapeagiundip.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata keberadaan gunung berapi bukan hanya terdapat di Bumi, namun juga di luar Bumi. Bahkan ada yang masih aktif hingga sekarang ini. Beberapa di antaranya memunculkan fenomena yang amat unik dan mengundang untuk diselidiki. Dalam hal ini, pengetahuan astronomi bertemu dengan geologi memunculkan cabang astrogeologi. Sekurangnya di planet terestrial juga terdapat gunung api. Planet terestrial [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=26&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata keberadaan gunung berapi bukan hanya terdapat di Bumi, namun juga di luar Bumi. Bahkan ada yang masih aktif hingga sekarang ini. Beberapa di antaranya memunculkan fenomena yang amat unik dan mengundang untuk diselidiki. Dalam hal ini, pengetahuan astronomi bertemu dengan geologi memunculkan cabang astrogeologi. Sekurangnya di planet terestrial juga terdapat gunung api. Planet terestrial atau kebumian adalah planet dengan komposisi bahan penyusunnya segolongan dengan komposisi penyusun Bumi, yaitu didominasi oleh silikat. Sebut saja Mars, Venus, dan Merkurius. Hanya Merkurius yang tidak memiliki gunung berapi.<br />
Eksplorasi planet-planet yang dilakukan dengan pesawat baik yang berawak maupun tidak sejak tahun 60an telah melengkapi bukti dari kegiatan volcanism zaman dahulu beserta produk-produk hasilnya dan bentukan-bentukan hasil volkanisme. Para astronot mengumpulkan batuan hasil volkanisme dalam jumlah yang banyak dalam berbagai misi pendaratan di bulan. Hanya sebagian kecil dari sampel-sampel batuan tersebut yang telah diteliti sampai tuntas oleh para ilmuwan, sedangkan sisanya masih tersimpan di laboratorium dengan pengawasan kondisi lingkungan yang ketat untuk masa depan studi lebih lanjut. Sejak 1976-1979 ketika Viking Mission, ilmuwan telah mampu mempelajari volcano yang berada di Mars, dan hasil studi mereka dapat dipakai untuk membandingkan dengan gunungapi yang ada di bumi. Contohnya gunungapi Hawaiian dan Martian terlihat sama dari bentuk luarnya. Keduanya adalah gunungapi perisai (shield), dengan slope yang tidak begitu tajam, berbagai lubang galiankecil pada pusat mereka, terlihat roboh. Perbedaan yang paling jelas diantara keduanya adalah perisai pada Martian sangatlah besar. Perisai Martian dapat berukuran 7 miles tingginya dan lebih dari 350 miles ke seberang, berlawanan dengan suatu tingginya maksimum sekitar 6 miles dan lebar 74 miles untuk perisai Hawaiian. Contoh lainnya adalah keberhasilan Voyager-2 mendapat gambar dari gunung Io pada salah satu satelit Planet Jupiter yang sedang ada aktivitas volkanismenya.<br />
<span id="more-26"></span><br />
<strong>1.	GUNUNGAPI DI MARS</strong><br />
Olympus Mons yang merupakan gunung tertinggi di Mars yang mencapai 24 kilometer, dengan lebar kaki 500-600 kilometer. Lebar kaldera yang terbentuk akibat letusannya miliaran tahun lampau sekitar 80 kilometer. Bisa dibayangkan betapa tingginya gunung ini sebelum meletus. Olympus Mons disebut-sebut sebagai gunung tertinggi di Tata Surya.<br />
Di Mars memang banyak terdapat gunung api raksasa. Termasuk yang telah padam, seperti Arsia Mons, Ascraenus Mons, dan Pavonis Mons. Gunung-gunung ini terdapat di dataran tinggi Tharsis sepanjang 4.000 kilometer dengan ketinggian 4.000 kilometer.<br />
Perlu diketahui, Mars memiliki profil permukaan yang unik. Di belahan selatan merupakan daerah yang penuh kawah dan alur-alur mirip saluran. Sedangkan gunung-gunung berapi itu terdapat di belahan utara. Seolah, melihat Mars, mirip dua belahan dari planet berbeda yang disetangkupkan. Kondisi yang berbeda dengan di Bumi tentunya.<br />
Adalah rendahnya gravitasi Mars akibat ukurannya yang kecil dan tidak adanya aktivitas tektonik lempeng yang membuat gunung-gunung di sana demikian tinggi menjulang. Karena tidak adanya aktivitas tektonik, maka dapur magma akan selalu mengeluarkan lava pada titik yang sama. Dengan begitu, gunung yang terbentuk semakin tinggi. Di Bumi karena adanya pergerakan aktivitas tektonik mengakibatkan gunung yang terbentuk tidak begitu tinggi dan muncul pegunungan. Bila dibandingkan dengan gunung-gunung api di Bumi, kebanyakan gunung api di Mars mirip dengan gunung api perisai di Kepulauan Hawaii namun berukuran jauh lebih besar.<br />
Seperti halnya daerah pegunungan yang memiliki ngarai, di Mars pun terdapat ngarai besar dan alur permukaan yang berasal dari sungai purba dan bekas banjir bandang. Ngarai terbesar di Mars dinamakan Valles Marineris dengan panjang 4.000 kilometer dan dalam 2-7 kilometer. Berada di sebelah timur dataran Tharsis, seperti halnya dataran tinggi Tharsis dan gunung api, ngarai itu terbentuk akibat terangkatnya sebagian kerak Mars.<br />
Proses pembentukan Valles Marineris itu disertai dengan longsornya lereng rekahan dan air yang berasal dari dalam Mars meresap melalui celah dinding rekahan sehingga terjadi proses pelongsoran tebing. Akibatnya, rekahan yang terbentuk menjadi sangat lebar. Bahwa Mars pernah terdapat kelimpahan air bisa dilihat dari adanya alur bekas sungai kering di ujung Valles Marineris.<br />
Berbagai penelitian mencoba menjawab ada di mana air yang dulu pernah ada di Mars, sekarang ini. Ternyata selain membeku di tudung kutubnya, air beku terperangkap di batuan-batuan Mars. Penelitian terinci mengenai dataran tinggi, gunung, dan ngarai akan membantu memahami struktur bagian dalam Mars. Berikut ini adalah beberapa profil volcano yang ada di Mars.<br />
<strong>Alba Patera</strong><br />
Alba Patera adalah suatu bentuk volkanik unik yang terletak disebelah utara Tharsis, Planet Mars. Alba Patera merupakan gunungapi yang besar, berbentuk perisai dengan diameter mencapai 1600 kilometer namun dengan tinggi hanya sekitar 6 km pada titik tertinggi. Gunungapi ini merupakan yang terbesar pada solar system dalam kaitan volume dan luas area. Gunung ini mempunyai magma yang lebih encer dibanding Martian volcano yang lain.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-15" title="180px-alba_patera_-_topography_map" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/180px-alba_patera_-_topography_map.png?w=470" alt="180px-alba_patera_-_topography_map"   /></p>
<p>Gambar 1. <em>Topography of Albor Tholus</em><br />
<strong>Albor Tholus</strong><br />
Albor Tholus merupakan gunungapi padam yang terletak di Elysium Planitia area pada planet Mars. Lokasinya beredekatan dengan Elysium Mons and Hecates Tholus. Albor Tholus memiliki tinggi 4.5 km dan lebar mencapai 160 km pada bagian dasar. Gunungapi ini memiliki kaldera dengan diameter 30 km, sedalam 3 kilometer. Ukuran kedalaman kaldera gunungapi ini tidak seperti pada gunungapi lainnya. Dari hasil evaluasi, kemungkinan gunung pada zona Elysium mengalami masa aktif yang cukup lama.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-16" title="200px-mola_albor_tholus" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-mola_albor_tholus.jpg?w=470" alt="200px-mola_albor_tholus"   /></p>
<p>Gambar 2. <em>Topography of Albor Tholus and its neighbourhood</em><br />
<strong>Arsia Mons</strong><br />
Arsia Mons merupakan gunungapi yang terletak paling selatan dibanding dua gunungapi lainnya (Pavonis Mons dan Ascraeus Mons), yang ketiganya secara kolektif disebut sebagai Tharsis Montes, di atas Tharsis membengkak dekat daerah equator Planet Mars. Arsia Mons memilki diameter 435 kilometre, dengan tinggi sekitar 9 km, lebih tinggi dari dataran yang ada di sekitar dengan puncak kaldera luasnya mencapai 110 km persegi.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-17" title="195px-ascraeus_caldera_wall_pia05977" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/195px-ascraeus_caldera_wall_pia05977.jpg?w=470" alt="195px-ascraeus_caldera_wall_pia05977"   /></p>
<p>Gambar 3. Arsia Mons volcano<br />
<strong>Ascraeus Mons</strong><br />
Ascraeus Mons merupakan gunungapi yang terletak paling utara dari kompleks Tharsis Montes dibanding dua gunungapi lainnya Arsia Mons dan Pavonis Mons. Ascaraeus merupakan gunungapi yang termasuk tinggi dengan tinggi mencapai 18 km di atas permukaan Mars dan tekanan udaranya kurang dari 0.8 mbar. Gunung ini memilki diameter 460 km yang relatif dibentuk oleh aliran lahar terbaru.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-18" title="195px-arsia_mons_pia02804" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/195px-arsia_mons_pia02804.jpg?w=470" alt="195px-arsia_mons_pia02804"   /></p>
<p>Gambar 4. Ascraeus Mons<br />
<strong>Biblis Patera</strong><br />
Blibis Patera terletak pada 2.7°N, 235.4°E, salah satu dari dua gunung api dekat pusat Tharsis volcanism. Memilki panjang sekitar 170 km dan luas 100 km persegi, berbeda 3 km dengan daerah sekitarnya. Pada bagian tengah gunung terdapat caldera yang kemungkinan terbentuk akibat robohnya puncak selama proses erupsi. Caldera ini memilki diameter 53 kilometer dan 4 kilometer dalamnya.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-20" title="180px-biblis_patera_-_topography_map" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/180px-biblis_patera_-_topography_map.png?w=470" alt="180px-biblis_patera_-_topography_map"   /></p>
<p>Gambar 5. Biblis Patera<br />
<strong>Elysium Mons</strong><br />
Elysium Mons terletak pada 25°N, 213°W, di Elysium Planitia, di belahan timur Martian. Gunung ini berdiri dengan tinggi 13.9 km di atas dataran yang terbentuk oleh lahar dan sekitar 16 km di atas Martian datum. Diameternya adalah sekitar 240 kmdengan puncak berupa kaldera 14 km ke sebrang. Elysium Mons diambil gambarnya oleh orbiter Mariner9 pada tahun 1972.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-19" title="200px-elysium_mons" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-elysium_mons.gif?w=470" alt="200px-elysium_mons"   /></p>
<p>Gambar 6. Elysium Mons<br />
<strong>Hecates Tholus</strong><br />
Hecates Tholus merupakan Martian volcano yang yang tercatat sebagai hasil dari European Space Agency&#8217;s Mars Express mission dimana mengindikasikan erupsi utama yang terjadi sekitar 350 juta tahun yang lalu. Letusan tersebut menghasilkan kaldera dengan diameter sebesar 10 km. Gunungapi ini terletak 32.1°N 150.2°E, di Elysium Planitia dan memiliki diameter 183.0 km dan merupakan gunung paling utara dari gunung-gunung Elysium.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-21" title="200px-hecates_tholus" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-hecates_tholus.gif?w=470" alt="200px-hecates_tholus"   /></p>
<p>Gambar 7. Gunungapi Hecates Tholus<br />
<strong>Olympus Mons</strong><br />
Olympus terkenal karena tertinggi di tata surya kita. Yang terletak di planet Mars sektar 18° N 133° W . Sejak akhir abad ke-19, para peneliti telah mempercayai bahwa Olympus merupakan sebuah gunung. Sebelunya dikenal dengan albedo featur, Nix Olympica (Snows Of Olympus). Olympus Mons merupakan gunungapi tertinggi di tata surya kita, dengan tinggi mencapai 27 km dari dasarnya. Gunung ini terlihat sebagai titik hitam di atas atmosfer Mars dilihat dari Mariner 9. Olympus merupakan shield volcano sebagai hasil dari lava cair yang keluar dari lubang kepundan yang membutuhkan waktu yang lama dan lebih lebar daripada ketinggiannya. Rata-rata kemiringan lereng Olympus gradual. Pada tahun 2004 Mars Express orbiter mendapatkan gambar lahar tua yang mengalir di atas punggungan Olympus. Berdasarkan ukuran kawah dan frekuensi jumlah, lereng sebelah barat telah terbentuk sejak 115juta tahun yang lalu hingga 2 juta tahun yang lalu. Hal ini merupakan terminologi baru dalam bidang geologi bahwa gunungapi dapat beraktivitas terus dalam satu periode waktu yang lama. Gunung di Hawaii merupakan contoh shield volcano dalam skala lebih kecil, ukuran Olympus yang luar biasa ini mungkin disebabkan karena di Planet Mars tidak ada lempeng tektonik. Kaldera pada bagian paling atas terbentuk setelah erupsi berhenti dan menyebabkan dapur magma menjadi kosong dan mengakibatkan robohnya atap, sepanjang roboh tersebut permukaan diperluas dan membentuk retakan. Kaldera tambahan terbentuk ketika adanya produksi magma berikutnya. Lalu roboh melingkari kaldera aslinya memberikan bentuk yang kurang simetris.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-22" title="fig38" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/fig38.gif?w=470" alt="fig38"   /></p>
<p>Gambar 8. <em>Mariner 9 imagery of Olympus Mons volcano on Mars</em></p>
<p><strong>Pavonis Mons</strong><br />
Pavonis Mons terletak pada pertengahan tiga gunung yang dikenal dengan sebutan Tharsis Montes dekat garis equator Planet Mars posisinya sekitar 0.8° N, 113.4°W. Sebelah utaranya adalah Ascareus Mons, sebelah selatannya adalah Arsia Mons dan Olympus Mons terletak pada sebelah baratnya. Nama latin Pavonis Mons adalah Peacock Mountain. Pavonis Mons mempunyai tinggi sekitar 14 km di atas permukaan Mars, dengan tekanan atmosfer 130Pa. Sisi sebelah timur gunung lebih rendah, terbentuk karena runtuhan yang berasosiasi dengan patahan yang mengikuti garis sesar.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-23" title="200px-pavonis_mons_pia05243" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-pavonis_mons_pia05243.jpg?w=470" alt="200px-pavonis_mons_pia05243"   /></p>
<p>Gambar 9. Pavonis Mons<br />
<strong>Syrtis Major Planum</strong><br />
Syrtis Major Planum merupakan bintik hitam yang terletak di antara dataran rendah disebelah utara dan dataran tinggi di sebelah selatan Planet Mars. Lokasi Syrtis Major Planum pada 8°24&#8242;N 69°30&#8242;E.  Gunung ini memanjang 1500 km ke arah utara dari garis Khatulistiwa Planet Mars dan kelilingnya 1000 km memutar dari barat ke timur. Kebanyakan lereng pada Syrtis Major Planum memilki slope kurang dari 10. Pengukuran gravity lapangan oleh satelit menunjukkan hasil anomali yang positif terletak di tengah kompleks kaldera.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-24" title="200px-syrtis_major_mc-13" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-syrtis_major_mc-13.jpg?w=470" alt="200px-syrtis_major_mc-13"   /></p>
<p>Gambar 10. Syrtis Major Planum</p>
<p><strong>2.	GUNUNGAPI DI VENUS</strong><br />
Dataran Venus sebagian besar adalah lereng, hanya 10 persen berupa dataran tinggi mirip benua yang ada di permukaan Bumi. Berbeda dengan Venus, hampir separuh permukaan Bumi adalah lempengan benua. Sedangkan untuk Mars, setengah permukaannya adalah dataran tinggi.<br />
Ada dua dataran tinggi yang terkenal di Venus, yaitu Ishtar Terra dan Aphrodite Terra. Ishtar Terra berada di ketinggian 2 km dari radius rata-rata Venus (bila di Bumi adalah permukaan laut) seluas Benua Australia. Aphrodite Terra membentang setengah panjang ekuator dan seluas benua Afrika. Di Ishtar Terra terdapat pegunungan tertinggi di Venus yaitu pegunungan Maxwell setinggi 12 km di atas radius rata-rata Venus. Di sebelah selatan Ishtar Terra juga terdapat pegunungan, meskipun tidak setinggi Maxwell, yaitu Alpha Regio dan Betha Regio. Di puncak pegunungan Maxwell terdapat cekungan yang diduga merupakan kaldera, sisa letusan gunung berapi, berdiameter 85 km yang diberi nama Cleopatra.<br />
Saat satelit Pioneer mengamati Venus, terutama di daerah Alpha Regio dan Betha Regio diketahui adanya muatan listrik lepas di atmosfer, sama seperti keberadaan petir saat terjadi letusan gunung di Bumi. Namun, belum diketahui apakah saat ini masih ada letusan gunung berapi di Venus seperti halnya masa lalunya. Berikut ini adalah beberapa contoh volcano yang ada di Venus.<br />
<strong>Maat Moons</strong></p>
<p>Maat Mons merupakan gunungapi tertinggi di Venus yang terletak pada 0.9° N 194.5°E, dengan tinggi 8 kilometer. Gunung ini diberi nama setelah nama dewa dari Mesir dewa kebenaran dan keadilan. Maats Moons memiliki puncak berupa kaldera dengan ukuran 28×31 km. Dengan adanya kaldera tersebut terdapat 5 buah kawah didalamnya.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-25" title="250px-maat_mons_on_venus" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-maat_mons_on_venus.jpg?w=470" alt="250px-maat_mons_on_venus"   /></p>
<p style="text-align:center;">Gambar 11. Maat Mons is displayed in this three-dimensional perspective view of the surface of Venus, with the vertical scale multiplied by 22.5. Based on Magellan probe radar images</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Sapas Mons</strong><br />
Sapas Mons adalah volcano besar yang terletak di region Atla Regio di Venus. Sapas Mons memiliki diameter 217 km dengan tinggi 1.5 km. Lereng tertutupi oleh aliran lava. Sapas Mons terletak pada 8.5° N, 188.3° E.</p>
<p style="text-align:left;"><img class="alignnone size-full wp-image-28" title="250px-sapas_mons" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-sapas_mons.jpg?w=470" alt="250px-sapas_mons"   /></p>
<p>Gambar 12. <em>Radar Image of Sapas mons</em><br />
<strong>Ushas Mons</strong><br />
Ushas Mons memiliki diameter 413 km, dengan tinggi 2 km. Ushas Mons terletak pada 24.3° S, 324.6° E pada belahan sebelah timur Venus. Volcano ini ditandai dengan adanya banyak aliran lava cerah dengan arah kecenderungan retak utara selatan. Sebagian besar menunjukkan terbentuk setelah lava tersebut keluar ke permukaan. Di bagian pusat dari puncak, aliran yang masih muda tidak terpatahkan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-29" title="250px-ushas_mons" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-ushas_mons.jpg?w=470" alt="250px-ushas_mons"   /></p>
<p>Gambar 13. <em>Radar Image of Ushas Mons</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>3.	GUNUNGAPI IO</strong><br />
Dari lebih 100 buah satelit alam yang ada di tata surya,ada beberapa yang tergolong besar (seukuran Bulan memiliki radius 1.738 km bahkan lebih besar). Beberapa di antaranya Io (1.815 km), Europa (1.569 km), Ganymede (2.631 km) dan Callisto (2.0400 km) untuk satelit Yupiter, Titan (2.575 km) untuk satelit Saturnus dan Triton (1.350 km) untuk satelit Neptunus.<br />
Dari seluruh anggota Tata Surya, Io merupakan benda langit yang teraktif dan juga yang paling aneh secara vulkanik. Pengamatan yang dilakukan di Bumi, sebelum ada penerbangan ruang angkasa, pada satelit Yupiter yang semula di beri kode J31979 itu memperlihatkan karakteristik dan kondisi khas yang tidak dijumpai pada satelit alam yang lain. Dalam mitologi Yunani, Io adalah nama wanita cantik yang diubah oleh Zeus menjadi sapi. Io termasuk salah satu satelit Galilean, karena pertama kali diamati oleh Galileo di tahun 1610.<br />
Kekhasan yang mencolok adalah fisiografinya dibentuk oleh kegiatan vulkanisme. Belerang dan belerang oksida mendominasi permukaannya, menjadikannya berwarna jingga kekuningan. Terdapat lebih dari 200 kaldera dengan diameter 20 kilometer, yang terbentuk oleh kegiatan vulkanisme yang berbeda dengan Bumi dan Mars. Nmun, di Io tidak terdapat kawah yang terbentuk oleh benturan benda angkasa seperti yang terlihat di Bulan, Mars, atau anggota Tata Surya yang lain.<br />
Ada dua jenis aktivitas vulkanisme di Io. Yaitu aliran lava dari kaldera dan semburan materi kaldera yang menghasilkan pancaran ke atas berbentuk payung. Pemandangan yang terlihat indah ini diakibatkan rendahnya gravitasi (hanya seperenam gravitasi Bumi) dan tipisnya atmosfer. Yang menarik, aktivitas vulkanisme satelit berdiameter 3.632 kilometer dengan kerapatan 3 gram/cm3.<br />
Pemandangan lebih spektakuler muncul ketika terjadi letusan gunung apinya. Sebagai contoh letusan dua gunungnya yang teraktif, yaitu Pele dan Loki, yang menghasilkan semburan hingga ketinggian 100 kilometer dengan kecepatan awal 3.000 kilometer/jam. Letusan Pele di tempat yang berjarak 600 juta kilometer (5 kali jarak Bumi-Matahari) dari Bumi di tahun 1991 berhasil diamati oleh Observatorium Fred Lawrence Whipple di Arizona, Amerika Serikat.<br />
Pengamatan oleh wahana antariksa memberikan hasil yang lebih detail. Di tahun 1979, Voyager I berhasil memotret banyak sekali profil permukaan Io. Terlihat adanya proses erosi yang terus berjalan. Waktu itu, beberapa gunung api sedang meletus dan memuntahkan debu berkilo-kilometer tingginya.<br />
Melalui detektor inframerah terekam keberadaan kaldera bersuhu 780-930 derajat Celsius. Temperatur ini sangat tinggi untuk ukuran obyek langit yang terletak jauh dari Matahari. Sedangkan temperatur di sekitar kaldera -1620 derajat Celsius. Perbedaan temperatur yang ekstrem.<br />
Yang menarik dari Io adalah banyaknya kesamaan ciri-ciri permukaannya dengan daerah pegunungan di Bumi, seperti keberadaan bukit-bukit melingkar, plato-plato, tanah-tanah merosot, jeram-jeram dan dataran.Penelitian Io begitu penting dikarenakan dapat membantu memahami aktivitas vulkanisme di Bumi. Meskipun letusan gunung api di Bumi tidak sedahsyat yang terjadi di Io, namun planet kita ini memiliki aktivitas vulkanisme yang lebih sulit diramalkan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-31" title="511px-io_met_vulkaan" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/511px-io_met_vulkaan.jpg?w=470&#038;h=551" alt="511px-io_met_vulkaan" width="470" height="551" /></p>
<p>Gambar 14. Io</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=26&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/20/extraterrestrial-volcano/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/180px-alba_patera_-_topography_map.png" medium="image">
			<media:title type="html">180px-alba_patera_-_topography_map</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-mola_albor_tholus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">200px-mola_albor_tholus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/195px-ascraeus_caldera_wall_pia05977.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">195px-ascraeus_caldera_wall_pia05977</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/195px-arsia_mons_pia02804.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">195px-arsia_mons_pia02804</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/180px-biblis_patera_-_topography_map.png" medium="image">
			<media:title type="html">180px-biblis_patera_-_topography_map</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-elysium_mons.gif" medium="image">
			<media:title type="html">200px-elysium_mons</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-hecates_tholus.gif" medium="image">
			<media:title type="html">200px-hecates_tholus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/fig38.gif" medium="image">
			<media:title type="html">fig38</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-pavonis_mons_pia05243.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">200px-pavonis_mons_pia05243</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/200px-syrtis_major_mc-13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">200px-syrtis_major_mc-13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-maat_mons_on_venus.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-maat_mons_on_venus</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-sapas_mons.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-sapas_mons</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/250px-ushas_mons.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-ushas_mons</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/511px-io_met_vulkaan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">511px-io_met_vulkaan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mount. St. Helens</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/16/3/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/16/3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 12:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOLCANO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/16/3/</guid>
		<description><![CDATA[7 Keajaiban Gunung St. Helens oleh Lloyd &#38; Doris Anderson http://www.creationism.org indonesian/7wonders_id.htm Pendahuluan: Ringkasan tentang 7 keajaiban ini adalah 7 ciri-ciri geologis hasil aktivitas letusan tahun 1980 yang dipamerkan di MSH (Mount St. Helens) Creation Information Center. Karena proses terbentuknya amat cepat, ciri-ciri ini mematahkan pemikiran evolusi yang menyatakan pembentukannya membutuhkan waktu yang lama. Kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=3&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>7 Keajaiban Gunung St. Helens</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-4" title="Mt. St. Helens" src="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/msh1980erupt.jpg?w=470" alt="Mt. St. Helens"   /> oleh Lloyd &amp; Doris Anderson    http://www.creationism.org indonesian/7wonders_id.htm</p>
<p style="text-align:left;">Pendahuluan:  Ringkasan tentang 7 keajaiban ini adalah 7 ciri-ciri geologis hasil aktivitas letusan tahun 1980 yang dipamerkan di MSH (Mount St. Helens) Creation Information Center. Karena proses terbentuknya amat cepat, ciri-ciri ini mematahkan pemikiran evolusi yang menyatakan pembentukannya membutuhkan waktu yang lama. Kita menyebutnya ‘keajaiban’ karena keunikan gejala-gejala ini. Sebenarnya, kita percaya bahwa keajaiban-keajaiban ini adalah pesan dari Allah untuk mengingatkan manusia betapa cepatnya Ia menciptakan dunia ini.<br />
Letusan gunung berapi,  18 Mei 1980</p>
<p><span id="more-3"></span><br />
1.  Gunung terbentuk ulang tanpa bisa dikenali lagi dalam waktu 9 jam.  MSH (Mount St. Helens) diklaim sebagai puncak gunung yang paling indah. Berbentuk kerucut dan diselimuti salju, yang menjulang tinggi di atas hutan lebat berjurang dalam dengan danau yang jernih di bagian utaranya. Di bulan Maret 1980, magma mulai naik dan memecah belah gunung itu. Gempa bumi yang kuat pada 18 Mei 1980 pk 08.32 pagi, menyebabkan dinding utara runtuh ke lembah di bawahnya, melepaskan tekanan di sekitarnya dalam bentuk letusan menyamping ke utara berbentuk seperti kipas. Ledakan awal selama 8 menit ini menghancurkan hutan seluas 230 mil persegi.</p>
<p>Letusan gunung berlanjut sampai siang hari, mengeluarkan tenaga setara 20.000 bom atom Hiroshima. Selama 9 jam itu, 1/4 puncak dan bagian tengah gunung itu lenyap, meninggalkan sebuah kawah raksasa berbentuk tapal kuda. Material itu mengisi jurang-jurang. Material setebal 250 kaki tertimbun di dasar danau dan sungai yang mengalir di utara dan barat laut gunung terkubur di bawah endapan setebal 150 kaki. Dalam waktu 9 jam daerah itu menjadi mencekam, tanpa kehidupan seperti permukaan bulan.</p>
<p>Selama 150 tahun, pandangan evolusi geologis menimimalkan peran dari kejadian-kejadian bencana alam skala besar. Namun, perubahan geologis yang dihasilkan oleh 9 jam dari letusan dari gunung berapi kecil ini setara dengan jutaan tahun perubahan yang bertahap.</p>
<p>2.  Ngarai terbentuk dalam 5 bulan.  Dalam waktu 5 bulan setelah letusan, dua ngarai terbentuk oleh lumpur dan aliran bebatuan hasil letusan, menjadi saluran pembuangan bagi kawah berukuran 1.5 x 2.0 mil. Saluran utama, Ngarai Step kedalamannya mencapai 700 kaki. Di sebelah timurnya adalah Ngarai Loowit. Kedua ngarai itu membelah batu utuh sedalam 100 kaki. Sungai kecil mengalir melalui tiap ngarai. Penjelasan yang umum dari teori evolusi adalah ngarai terbentuk karena aliran sungai kecil itu selama periode yang panjang. Dalam kasus ini, kita tahu bahwa ngarai-ngarai ini terbentuk secara cepat; kemudian aliran air mulai mengaliri bagian dasarnya. Buku-buku pelajaran mengatakan bahwa ngarai paling spektakuler, Grand Canyon, terbentuk dari erosi aliran sungai selama jutaan tahun. Sekarang ilmuwan erosi geologis percaya bahwa Grand Canyon terbentuk secara cepat sebagaimana MSH.</p>
<p>3.  Tanah tandus terbentuk dalam waktu 5 hari.  Topografi (bentuk permukaan) tanah tandus ditemukan di bagian barat daya dan Dakota. Ini terjadi saat bebatuan telepas mengalami pengikisan di tanah yang berstruktur batu, menghasilkan permukaan batu yang bergerigi. Penjelasan standar untuk tanah seperti itu adalah: secara berabad-abad air menghanyutkan bebatuan yang terlepas, sehingga yang tersisa adalah pola-pola bentukan batuan besar yang tegak berdiri sendiri.</p>
<p>Di MSH, tanah longsor membawa es dan salju dalam jumlah besar terkubur di dalam lembah di bagian utara. Hari itu abu setebal 30 kaki dengan suhu 550° F juga tertimbun, yang seketika itu melelehkan es, menyebabkan letupan uap yang mendidih. Proses ini sama dengan proses terjadinya letusan hari itu. Air memuai 1700 kali lipat saat berubah menjadi uap. Ketika hal ini terjadi secara cepat, timbullah ledakan. Akhirnya, melalui ledakan-ledakan seperti itu, lenyaplah semua air.</p>
<p>Ketika abu merah menyala menyelimuti es dan salju di dalam lembah menyebabkan es mencair dan mendidih jadi uap, terbentuklah apa yang disebut “terowongan ledakan uap” (kedalamannya sampai 125 kaki). Dinding terowongan hampir vertikal sampai akhirnya gaya gravitasi meruntuhkan dindingnya, membentuk efek rill dan gully (selokan dan sungai kecil). Ciri-ciri inilah yang banyak dijumpai pada topografi tanah tandus. Permukaan tanah tandus yang luas di Amerika Serikat bisa jadi terbentuk dari kekuatan bencana alam dan sejumlah gerakan vulkanik.</p>
<p>4.  Batuan yang berlapis-lapis terbentuk dalam waktu 3 jam.  Pada 12 Juni 1980, letusan yang ketiga menghasilkan batuan berlapis setebal 25 kaki yang mencengangkan pada ahli geologi. Pemikiran tradisional mengatakan bahwa lapisan-lapisan yang berurutan membutuhkan waktu lama untuk terbentuk; tetapi lebih dari 100 lapisan terbentuk antara jam 9 sampai 12 malam. Ketika letusan membumbung 9 mil di atas gunung, batuan hasil erupsi meleleh keluar kawah meyusuri lereng utara ke arah lembah, tiap kali melapisi lapisan di bawahnya dalam. Membentuk bagian-bagian setebal satu inci sampai satu yard. Tiap lapis membutuhkan beberapa detik sampai beberapa menit untuk terbentuknya.</p>
<p>Ahli geologi, Steven Austin menjelaskan bahwa aliran pyroclastic sebagai cairan lumpur kental, bergolak dan berisi debu halus vulkanis. Batuan itu turun di lereng gunung dengan kecepatan angin topan dan meninggalkan timbunan bersuhu 1000 derajad F. Mungkin kita berpikir tiap endapan akan tercampur secara homogen. Ternyata lumpur panas dan batu apung berkecepatan tinggi ini akan benar-benar terpisah menjadi lapisan partikel kasar dan lapisan partikel halus. Gejala ini mengikuti hukum aliran yang didemonstrasikan dalam tangki endapan di laboratorium.</p>
<p>Lapisan-lapisan tipis yang serupa muncul di Tapeats Sandstone di Grand Canyon. Pengetahuan konvensional berkata bahwa endapan terbentuk secara lambat dan terus menerus selama waktu yang lama. Baik lumpur yang terbentuk di MSH dan lumpur yang membentuk lapisan-lapisan di Tapeats mengikuti hukum fisika yang sama. Gunung api Helens telah membuktikan formasi itu dapat terjadi secara cepat. Air bah global dapat menghasilkan lapisan Tapeats dalam waktu singkat.</p>
<p>5.  Sistem sungai terbentuk dalam 9 jam.  Tanah longsor pada 18 Mei telah mengubur sungai dan jalan raya ke Danau Spirit rata-rata 150 kaki. Kejadian itu juga mengubur sebagian besar saluran pembuangan di Lembah Upper Toutle seluas 23 mil persegi dan menyumbat mulut lembah. Selama 22 bulan, tidak ada jalan air yang menembus ke Samudra Pasifik.</p>
<p>Kemudian, 19 Maret 1982, sebuah letusan melelehkan bongkahan salju yang telah terkumpul dalam kawah selama musim dingin. Air bercampur dengan bahan-bahan lain di lereng gunung menghasilkan aliran lumpur yang hebat. Dalam waktu sembilan jam, tanpa ada yang melihat, aliran lumpur membentuk sebuah sistem pembuangan terpadu di keseluruhan lembah dan membuka kembali jalan ke samudra Pasifik. Saluran pembuangan meliputi paling tidak tiga ngarai sedalam 100 kaki. Salah satunya dinamai “Grand Canyon kecil Toutle” karena ukurannya berskala 1/40 dari Grand Canyon.</p>
<p>Air atau lumpur dalam jumlah kecil memberi pengaruh secara lambat, tetapi air dan lumpur dalam jumlah besar akan memberi dampak secara cepat.</p>
<p>Ahli geologi penganut evolusi menetapkan waktu yang amat panjang untuk terbentuknya Channeled Scablands di timur Washington sepanjang 16.000 mil. Di tahun 70-an, akhirnya terungkap bahwa bentukan geologis raksasa ini termasuk Grand Coulee terbentuk hanya dalam waktu 2 hari karena sebuah bencana besar. Kejadian bencana yang besar menjelaskan bentukan-bentukan hasil erosi di permukaan bumi. Kisah-kisah sejarah dari sekitar 300 suku bangsa di dunia menyatakan suatu bencana yang mampu melakukannya, yaitu Air Bah yang meliputi seluruh bumi.</p>
<p>6.  Kayu Gelondongan yang Tenggelam Terlihat Seperti Kayu Usang Hanya Dalam Waktu 10 Tahun.  Jutaan kayu hanyut ke danau Spirit pada hari erupsi. Tahun berganti tahun, kayu itu terendam air dan tenggelam ke dasar danau. Gelondongan itu masih mengandung 10% kayu. Kayu gelondongan itu tenggelam dalam posisi tegak lurus dan akarnya segera tertutup endapan yang terus hanyut ke danau itu. Hal itu menimbulkan kesan pohon-pohon itu tumbuh dan mati di tempat itu, membentuk suatu hutan yang menumpuk di atas hutan lain selama periode waktu yang panjang.</p>
<p>Formasi semacam itu ditemukan di banyak tempat, termasuk Specimen Ridge di Taman Nasional Yellowstone. Di sini, ahli geologi menemukan hutan-hutan yang ‘menembus’ 27 lapisan di tebing dan mengartikannya sebagai 27 lapisan hutan yang berurutan. Papan penjelasan yang ada di Specimen Ridge menunjukkan kekeliruan mereka. Tertulis: Terkubur dalam bebatuan vulkanik yang membentuk gunung dengan 27 lapisan berbeda dari hutan fosil yang tumbuh 50 juta tahun lalu.</p>
<p>Hari ini kebenaran telah datang dan tulisan itu telah hilang. Ilmuwan menyadari bahwa fenomena Danau Spirit menjelaskan Specimen Ridge. Pohon-pohon yang mengapung di atas danau, menyerap air dan tenggelam ke dasar danau selama waktu yang lama, memberikan kesan lapisan hutan yang tumbuh di atas lapisan yang lain. Proses pembentukan selama 50 juta tahun bisa terjadi hanya dalam beberapa tahun plus waktu pembatuan balok-balok kayu (100 sampai 1000 tahun).</p>
<p>7.  Model baru untuk pembentukan batubara secara cepat.  Dr. Steven Austin menulis disertasi doktoral di Penn State University mengenai model baru pembentukan batubara secara lebih cepat berdasar studinya di ladang batubara di Kentucky. Selama lebih dari 100 tahun, para ahli geologi menggunakan lumut rawa (yang mudah terbakar) untuk menjelaskan pembentukan batubara. Austin membantahnya karena tekstur batubara berpori seperti kulit kayu, bukan bertekstur halus seperti lumut. Lumut mengandung material akar; sedangkan batubara tidak. Lumut terletak di atas lapisan tanah; batubara seringkali terletak di atas lapisan batu. Tidak pernah ditemukan lumut yang sebagian berubah jadi batubara.</p>
<p>Austin menggunakan model keset mengapung, yaitu kondisi di mana bencana air bah menghanyutkan jutaan hektar hutan dan menjadikannya lapisan seperti keset. Keset-keset itu mengapung di lautan sekeliling Kentucky, bertabrakan satu dengan yang lain dan kulit kayunya akan tenggelam ke dasar. Sesudah itu adanya aktivitas vulkanik memberikan panas dan tekanan, yakni proses akhir yang diperlukan untuk menghasilkan batubara di laboratorium. Hasilnya adalah lapisan kaya batubara di Kentucky dan gelar PhD untuk Austin.</p>
<p>Sepuluh bulan kemudian MSH meletus, membanjiri Danau Spirit dengan jutaan kayu gelondongan. Dr. Austin menemukan bahwa kayu-kayu gelondongan itu terkelupas kulit batangnya, sehingga di dasar danau tertimbun kulit kayu setebal tiga kaki bercampur dengan endapan lain. Sampai hari ini, timbunan itu masih ada sebagai tumbuhan yang membusuk secara lambat. Tapi bila suatu saat ada bencana alam yang memberikan panas dan tekanan yang tepat, timbunan itu berubah jadi batubara. Riset Dr. Austin menunjukkan teori bahwa pembentukan batubara membutuhkan jutaan tahun, sangat dipertanyakan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=3&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/16/3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mapeagiundip.files.wordpress.com/2009/02/msh1980erupt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mt. St. Helens</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/11/hello-world/</link>
		<comments>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/11/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 21:24:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mapeagiundip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=1&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mapeagiundip.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mapeagiundip.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mapeagiundip.wordpress.com&amp;blog=6548850&amp;post=1&amp;subd=mapeagiundip&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mapeagiundip.wordpress.com/2009/02/11/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">mapeagiundip</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
